LiputAnn Jakarta +

Sedikit cerita tentang perjalanan ke Jakarta beberapa minggu yang lalu.

Jumat, 20 Mei

Sore itu tiba di terminal 1 Soekarno Hatta tepat waktu dan langsung lanjut ke terminal 2 dengan shuttle bus bandara untuk ketemu istri yang naik pesawat berbeda.

Masalah shuttle bus bandara ini sebenarnya agak meragukan juga. Sebelum ke Jakarta setiap kali aku bertanya hampir semua orang menyarankan untuk menggunakan taksi atau ojek karena shuttle bus bandara jarang beroperasi.

Entah aku yang hari itu lagi beruntung atau informasi yang aku dapat tidak benar karena pada kenyataannya shuttle bus antar terminal di Soekarno Hatta cukup sering melintas tanpa harus menunggu lama.

Sabtu, 21 Mei

Hal pertama yang ditanya si Kakak pagi itu adalah “mau kemana hari ini?”. Butuh beberapa menit untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut dan akhirnya aku menyebut tiga lokasi yang ingin aku kunjungi; Monas, Istiqlal dan museum.

Kesannya kok tua banget ya, tapi aku punya alasan sendiri kenapa tiga tempat itu yang ingin aku kunjungi di Jakarta.

Tujuan yang pertama Monas. Alasanya simpel, walaupun waktu SD dulu sudah pernah ke Monas tapi aku belum pernah / tidak punya foto dengan latar belakang Monas dan belum pernah naik ke puncaknya.

Rasanya aneh aja, aku sudah punya koleksi berfoto di landmark negara lain, naik ke puncak menara negara tetangga tapi tidak dengan Monumen Nasional negara sendiri. Istriku juga sama seperti aku, setengah dunia sudah di kelilingi tapi ternyata sama sekali belum pernah berkunjung ke Monas.

Kedua Istiqlal, kalau yang ini hanya sekedar ingin memuaskan rasa ingin tahu dan sholat di mesjid terbesar di Indonesia ini.

Sedangkan keinginan untuk berkunjung ke museum, jujur saja aku terpengaruh dengan tulisan Kak Monda yang rajin berbagi informasi tentang sejarah dan museum. Sekali lagi hanya ingin memuaskan rasa ingin tahu.

Sayangnya rencana hari pertama tidak semuanya bisa dikunjungi. Menginjakkan kaki di puncak Monas gagal terlaksana karena sudah kesorean. Museum malah lebih parah, tidak satupun museum yang sempat dikunjungi.

Mungkin rencana-rencana yang belum kesampaian itu bisa menjadi alasan untuk kembali ke Jakarta lagi.

Perjalanan hari itu diakhiri dengan mencoba Vietnam sandwich di Cali Deli, menikmati roti renyah sambil membicarakan rencana esok hari. Kebetulan kafenya lagi sepi jadi bisa bebas duduk dimana aja dan puas-puasin ngobrol lama, pokoknya berasa duduk di teras rumah sendiri.

Malam itu si Abang menyarankan untuk jalan ke Bogor. Si Abang cerita kalau dia diminta memilih satu kota untuk tinggali, dia memilih Bogor. Pokoknya dia mengganggap Bogor itu adalah kota kedua setelah kota kelahiran, Medan.

Aku yang tidak tahu banyak tentang Bogor jadi penasaran ditambah lagi dengan membayangkan kalau ke Bogor berarti aku bisa langung mencicipi Mie Janda yang terkenal itu🙂

Minggu, 22 Mei

Perjalanan ke Bogor baru akan dimulai setelah makan siang, paginya kita sempatkan untuk mengunjungi beberapa rumah kakak, abang dan keponakan lainnya. Mumpung hari Minggu dan semuanya ada di rumah.

Ternyata rencana ke Bogor yang awalnya hanya satu mobil berlima, berubah menjadi tiga mobil berenambelas orang. Di setiap rumah yang dikunjungi begitu mendengar rencana kalau kita mau ke Bogor semua langsung mau ikutan juga.

Aku sendiri pastinya senang, kunjungan ke Jakarta ini membuat saudara-saudara bisa berkumpul dan berwisata bersama. Karena ternyata meskipun jarak rumah mereka tidak terlalu jauh tapi karena kesibukan dan rutinitas masing-masing, acara kumpul dan berwisata seperti ini cukup jarang terjadi, ketemunya paling hanya ketika pengajian bulanan atau acara keluarga saja.

Sama seperti hari sebelumnya, rencana tidak sepenuhnya bisa terlaksana. Karena bertambahnya jumlah peserta yang usia, selera dan keinginan yang berbeda-beda, rencanaku untuk mencicipi Mie Janda harus dibatalkan dan memilih untuk makan di cafe De Daunan.

Tidak apalah, paling tidak aku bisa berkumpul dengan keluarga dan menggendong anggota termuda di keluarga besarku.

 

 

19 responses

    • Harga makanan lumayan mahal untung buian aku yg bayarin🙂
      Tapi karena tempatnya luas jadi anak kecil bebas lari dan maen tanpa mengganggu orang lain.

  1. Ralat! Masjid terbesar di Indonesia bukan Istiqlal!😀
    Saya lupa letaknya di mana, tapi setahu saya ada di Kalimantan, kalo nggak di Samarinda di Pontianak.🙂
    Kalo saya lihat dari foto aja, Istiqlal tampak kalah besar ama masjid kubah emas Depok. Juga dari Masjid Agung Semarang (Jateng) ama Masjid Agung Surabaya.🙂
    Belum lagi ada masjid besar baru yang lagi dibangun di Ponpes Al-Zaytun.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s