Seharusnya Bergembira

RestaurAnn, Sabtu 14

Setelah enam hari dan sembilan sampai duabelas jam setiap harinya hanya untuk kerja dan kerja.

Sabtu sore saatnya habiskan waktu dengan keluarga, bersama pasangan dan buah hati tercinta.

Tak perlu terlalu mengada-ada sampai harus menyusun rencana pergi menyeberangi samudra melintasi benua.

Cukup hanya dengan melakukan sesuatu yang sederhana mengajak mereka bertamasya dan berwisata, mencoba masakan baru atau bisa juga mencoba mengenang masa pacaran dulu waktu masih makan sepiring berdua.

Dulu hanya berdua sekarang ditemani buah hati tercinta.

Aura bahagia sudah terasa begitu mendengar rencana untuk berwisata, sepanjang jalan bertukar cerita sambil senyum bahagia dan sesekali tertawa ceria.

Jenuh dan lelah tak terasa restauran yang dituju sudah ada di depan mata.

Sapa hangat menyambut dari wanita muda yang berdiri di muka. Semua yang berseragam seakan menyambut kehadiran kita.

Ternyata bukan hanya kita saja yang sudah ada di sana, meja-meja sudah terisi beberapa,  ada yang datang bersama keluarga ada juga beberapa pasangan muda.

Dari raut wajah mereka terlihat semuanya bahagia, sama seperti kita.

Menunggu pesanan, kita lanjut bercerita dan buah hati masih terlihat bergembira dan bercanda.

Satu… dua… tiga… kenapa terasa begitu lama.

Makanan belum juga disajikan diatas meja.

Buah hati masih terus bermain dan bercanda meski lama kelamaan tingkah mereka menjadi sedikit tidak biasa.

Segala sesuat yang ada diatas meja menjadi bahan mainan mereka, beberapa jajanan juga diminta meski hanya sekedar ingin mencoba dan ditinggal begitu saja.

Gelas berisi minuman juga dijadikan mainan airnya tumpah kemana-mana.

Saat makanan tiba, mereka berhenti bercanda.

Sayangnya setelah mencoba mereka terlihat tidak suka, entah karena rasanya atau juga mungkin pesanan tidak sesuai dengan yang ada dibayangkan mereka.

Mereka meminta untuk memesan makanan yang berbeda. Tak apalah yang penting buah hati bisa bahagia.

Satu… dua… tiga… syukurlah kali ini ternyata tidak pakai lama. Pesanan diletakkan dihadapan mereka, senang rasanya melihat wajah mereka yang terlihat bahagia. Semoga kali ini mereka suka.

Empat lima suapan masuk ke mulut mereka tapi setelah itu mereka kembali bercanda.

Sendok garpu jatuh dari meja, satu peringatan untuk mereka supaya berhenti bercanda.

Minuman tumpah tersengol tidak sengaja, Beberapa pasang mata mulai melirik ke arah kita. Satu peringatan lagi untuk mereka.

Kata-kata ternyata tidak cukup menghentikan candaan mereka, cubitan dirasa cukup untuk mengingatkan mereka.

Ternyata berhasil membuat mereka berhenti bercanda, berganti dengan air mata dan jerit tangis yang memekakkan telinga.

Semakin banyak mata yang kini menatap ke arah kita.

“Kamu bawa keluar dulu deh”

“Sudah…sudah jangan nangis, makanya kalau makan jangan main-main”

“Ayo kamu jangan ikut-ikutan, habisin makanannya”

Bekas cubitan masih terasa dan tangisan masih belum juga berhenti

“Biar si Abang disini sama aku, si adik bawa keluar dulu kenapa”

“Iya…iya… sudah diam, jangan nangis”

“Makanya anak itu jangan dicubit… ngapain juga masih disini bawa jalan di luar aja dulu”

“Si abang ini lagi, disuruh habisin makanan masih aja makanan dimain-mainin”

“Sudah kenyang…”

“Sudah kenyang apa, makanya jangan makan jajan”

“Dibungkusin aja”

“Dibungkus.. dibungkus terus nanti siapa yang makan. Ayo cepat habisin jangan banyak alasan

Hening…diam…tak bergeming… dan kemudian ikut menangis keras.

Semakin banyak mata memandang kita, seakan seluruh pasang mata menghakimi kita termasuk mereka yang berpakaian seragam meski mereka tetap tersenyum tapi tak sehangat senyuman ketika pertama menyambut kehadiran kita.

Nota diletakkan diatas meja, beberapa lembar uang lima puluh ribuan diserahkan kepada mereka.

Dua bocah yang masih terus menagis digendongan, melangkah masam menuju pintu depan diantar tatapan orang-orang yang menusuk tajam.

Akhir pekan, seharusnya semua bergembira…

8 responses

  1. Kasian, kena cubit hehee… Jadi ingat waktu saya kecil dulu, tak pernah dicubit, cuma kena hajar pake ikat pinggang klo udah nakal banget. Ah kalo inget itu sekarang, gak ada rasa sakit hati sama ortu, mungkin karena saya sudah bisa melihatnya dr cara pandang orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s