6 November

Mungkin setiap orang pasti sudah pernah mengalami kejadian seperti ini, sesuatu yang dulunya tidak kita suka atau tidak terlalu kita suka tapi sekarang kita jadi suka. Seperti makanan, satu jenis makanan tertentu yang dulu buat kita biasa-biasa saja tapi sekarang malah selalu dicari dan ketagihan.

Banyak alasan kenapa bisa menjadi seperti itu. Salah satunya mungkin karena kita terlalu banyak menghabiskan waktu dengan satu orang yang kemudian meracuni kita dengan seleranya.

Itulah yang aku alami – diracuni oleh istri sendiri-

makanan yang dulunya biasa-biasa saja untukku sekarang malah bisa dibilang jadi salah satu makanan kesukaanku.

Perbedaan selera makanan memang jelas berbeda antara kami berdua terutama kalau dilihat dari daerah asal. Satu dari Medan dan satunya lagi dari Jawa tepatnya Surabaya.

Makanan pertama dan menjadi makanan favoritnya adalah Tempe.

Makanan asli Indonesia ini memang sudah tidak asing lagi dimanapun di Indonesia -mungkin karena orang Jawa memang ada dimana-mana jadi tempe juga ikut dibawa kemana pun mereka pergi- yang membedakan, di beberapa daerah tempe hanya sekedar jadi menu tambahan, ada atau tidak gak terlalu jadi masalah.

Kalau dulu di Medan, tempe ini seringnya cuma dipotong kecil-kecil, digoreng kering, dicampur dengan irisan kentang, ikan teri, kacang goreng disajikan waktu makan pagi bersama nasi putih dan lauk lainnya atau disajikan dengan lontong. Kalaupun tidak ada tempenya juga tidak jadi masalah.

Tapi sekarang di dapur rumahku menu tempe naik pangkat, tidak cuma pelengkap menu sarapan tapi menjadi hdangan utama makan siang bahkan makan malam, Tempe Penyet.

Sangkin candunya dengan Tempe Penyet, waktu kemarin ke Jakarta, istriku pernah bilang “terserah kalian mau wisata kuliner dan mencoba aneka macam makanan apa yang penting hari pertama aku harus makan Tempe Penyet di Jakarta”, ternyata hari pertama gagal, tidak berhasil menemukan Tempe Penyet.

Syukurlah di hari kedua kita berhasil menemukan Tempe Penyet yang enak di Jakarta di sato restoran Jawa Timur di daerah Jakarta Pusat, sebenarnya aku tidak terlalu suka mempromosikan restoran tertentu di blog ini, tapi buat yang kepingin mencoba masakan Jawa Timur di Jakarta sepertinya pas buat didatangi namanya Resto Soto Madura Asli Surabaya di Jalan Juanda gak jauh dari Mesjid Istiqlal kalau tidak salah – maaf gak terlalu kenal Jakarta.

Kegilaan istriku dengan tempe ini juga yang bikin aku belakangan ini jadi sering Googling menu masakan berbahan tempe. Selain untuk menunjukkan rasa setia dan menerima perbedaan, tempe itu memang bagus sebagai sumber protein alternatif selain daging dan jelas lebih murah.

Murah, sehat dan makin disayang istri, menguntungkan baget kan.

Jadi gak perlu malu dan berhentilah merendahkan tempe harus bangga dengan makanan Indonesia ini.

Hidup Tempe! (kira-kira sudah dipatenkan belum ya? jangan sampai setelah dicaplok orang baru kita kebakaran jenggot)

Makanan yang kedua adalah Kerupuk.

Sama seperti tempe, kerupuk juga sepertinya gak penting-penting banget buatku, beda dengan teman-teman yang dari Jawa – seperti pengakuan mereka sendiri – tidak puas rasanya makan kalau tidak ditemani sama kerupuk.

Kenapa aku jadi ketagihan dengan kerupuk ini gara-gara beberapa bulan yang lalu satu teman dari Surabaya berkunjung ke Bali dan aku yakin seyakin-yakinnya kalau istriku meminta dia untuk bawa oleh-oleh kerupuk hanya aku sama sekali tidak menduga kalau krupuk yang dibawa itu sekoper penuh.

Ya satu koper penuh isinya aneka macam kerupuk dan di kopernya ditempel sticker “Fragile” – tapi memang betul juga ya, kerupuk kan termasuk sesuatu yang mudah pecah.

Gara-gara krupuk sekoper itu aku akhirnya berhasl melewati sebulan penuh dengan ngemil Kerupuk Upil (jangan tanya asal usul namanya) yang dicocolin dengan sambal petis atau sambal pecel dan akhirnya ketagihan kerupuk.

Kira-kira siapa lagi ya yang dari Surabaya mau ke Bali, kalau ada kasih tau ya, aku mau nitip Kerupuk Upil sekoper ya.

Nah, kalau dua makanan yang diatas agak-agak rasis, menu ketiga ini gak ada hubungannya dengan suku atau daerah asalnya, kepiting.

Sebenarnya aku suka dengan kepiting, tapi karena sebab yang tidak begitu jelas sering sekali setelah makan kepiting aku jadi seperti kena alergi, bukan gatal-gatal atau kulit bentol-bentol tapi bibirku jadi bengkak.

Sepertinya penyebab bibir bengkakku itu disebabkan oleh sesuatu yang ada di kulit kepiting, setiap kali bibirku bersentuhan dengan kulit kepiting maka terjadilah pembengkakan kalau cuma makan dagingnya aman-aman saja.

Kebayangkan, makan malam di restoran pesan kepiting terus setelah itu bibir jadi dower, gak keren banget.

Jadi meskipun aku suka dengan daging kepiting tapi dengan membayangkan ketidakkerenan penampilanku gara-gara bibir yang membengkak maka aku melupakan dan mencoret kepiting dari daftar makananku untuk beberapa tahun sampai akhirnya aku ketemu dengan dia.

Kebetulan istriku termasuk orang yang suka kepiting, sebanyak apapun dan setebal apapun kulit kepiting tidak jadi masalah buatnya dan yang paling penting untukku adalah dia cukup menikmati pertarungan bersama kulit kepiting tersebut dan dengan baik hati membagikan dagingnya untukku, jadi aku cukup duduk manis dan menunggu dan bayar bill saja.

Tapi ada satu saat, karena pekerjaan kita sempat long distant relationship dan entah kenapa pada hari itu tiba-tiba aja aku kepingin banget makan kepiting. Karena gak bisa ditahan akhirnya aku pergi ke restoran pesan kepiting seporsi dibungkus untuk dimakan di rumah. Jadi kalaupun seandainya bibirku bengkak setelah makan gak bakalan ada yang lihat.

Ternyata sukses sama sekali bibirku tidak bengkak, hanya perlu kesabaran dan waktu yang lama untuk menghabiskan seporsi kepiting dengan bantuan peralatan lengkap seperti aneka macam bentuk dan ukuran garpu, pisau, martil, tang dan peralatan apapn yang bisa dipakai untk menghancurkan kulit kepiting dan disetiap gigitan yang terlintas di kepalaku adalah “I wish you were here”

Jadi buat kamu yang sudah meracuni aku selama kurang lebih sepuluh tahun ini dengan masakanmu.

Aku doain semoga tetap sehat biar tetap bisa menikmati Tempe Penyet disiang hari, secangkir kopi dan Kerupuk Upil di sore hari dan Kepiting Lada Hitam di malam hari dan tetap terus meracuniku dengan menu masakan lainnya.

Happy Birthday…

10 responses

  1. Soal tempe, dulu waktu masih di Bandung agak jarang makan tempe. Tapi di rumah keluarga suamiku di Surabaya ini, hampir setiap hari ada tempe di meja makan. Tapi aku nggak mau sampe diracuni suamiku. Justru aku pengin meracuni dia dengan masakan Sunda.πŸ˜€

  2. Ternyata untuk menciptakan suasana romantis tidak perlu lilin atau coklat apalagi berlian, cukup dengan kehadiran “Tuan Crab”…….he he….

  3. aihh …. jadi melow saya baca posting ini …

    saya sebenarnya termasuk dalam “barisan bukan pemberi ucapan happy birthday ” ..karena umur berkurang tidak perlu dirayakan ..

    namun saya tetap doakan semoga adinda tgopep …diberi kesehatan, rezeki dan kebahagiaan dalam sisa jatah umur dari Allah SWT. Amin

    dan Ann juga .. supaya tetap rajin posting ..hehehhehe hidup makanan indonesia !!!

  4. oi kemana aja baru nongol dimarih lagiπŸ˜€

    romantis kali pun, rupanya si Eda lagi ultah ya, semoga rukun selalu kalian ya palπŸ™‚

    tempe dan kerupuk juga favorit di sini, klo tempe emang senina ndu yg sor hehehe klo kepiting,samalah kelen itu, dia pun alergi sama kepiting, padahal suka, klo aku emang ga doyan … wlo setiap menatap kepiting seperti di gambar itu dijamin ngeces dah hehehe

    mjj pal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s