Guilty Pleasure

Perasaan bersalah setelah melakukan sesuatu yang disukai sepertinya semua orang pasti pernah mengalaminya. Salah satu yang paling sering menjadi penyebabnya adalah makanan; ayam goreng tepung, burger, kentang goreng, masakan berminyak dan bersantan, kue-kue manis dan segala macam makanan enak lain.

Beberapa hari yang lalu aku juga mengalami hal yang sama, sebenarnya cukup sering menikmati makanan seperti itu, cuma yang terakhir ini benar-benar membuat dilema disetiap suapannya.

Kejadiannya di rumah makan Padang, buat beberapa orang memang rumah makan Padang ini memang sarangnya Guilty Pleasure, buat beberapa orang bukan aku. Aku nyaman-nyaman saja kok selama ini makan hidangan Padang yang berminyak dan bersantan itu.

Biasanya kalau ke rumah makan Padang yang selalu aku pesan itu pasti rendang, jarang sekali menu yang lain. Terutama untuk rumah makan Padang yang baru pertama sekali aku coba karena penilaian baik tidaknya rumah makan Padang itu aku nilai dari baik tidaknya mereka mengolah daging menjadi rendang.

Kalau tidak enak maka rumah makan itu tidak layak dikunjungi lagi sebaliknya kalau enak pasti balik lagi.

Kembali ke Guilty Plesure di rumah makan kemarin sama sekali tidak ada hubungannya dengan rendang, karena hari itu aku lagi kepingin sesuatu yang tidak terlalu “berat”.

Setelah lihat-lihat tumpukan makanan yang dipajang akhirnya aku milih telur balado sama tempe sambal hijau (jarang-jarang aku lihat ada rumah makan Padang yang menghidangkan tempe sambal hijau).

Piring diletak dihadapan cuci tangan baca Bismillah nasi diaduk-aduk sama lauknya dan ehh ditempe sambal hijaunya ternyata ada pete juga.

Aku gak ada masalah dengan pete tapi masalahnya ini jam makan siang dan setelah ini aku masih harus balik kerja lagi. Aroma mulut masih bisa diatasi tapi yang jadi masalah itu kalau aroma setelah buang air kecil gak bisa diakal-akalin.

Tau sendiri toilet tempat kerja pasti tempatnya terbatas dan tingkat kunjungan orang yang datang kesitu lumayan tinggi parahnya lagi semua orang yang berkunjung saling kenal. Gak enak banget kalau setelah buang air terus ada yang nyamperin dan ngomong “Hei, Ann kayaknya aku tahu menu makan siangnya apa hari ini”

Tapi sudahlah, pete sudah digenggaman gak boleh ditolak nikmati saja dulu, urusan kamar kecil urusan nanti kalau perlu gak usah buang air.

Untuk membalas ketidaknyamanan menikmati pete siang itu seperti biasa giliran libur cukup diisi dengan masak-masa di dapur dengan menu Tempe Sambal Hijau, cuma kali ini gak pakai pete diganti pakai buncis.

Alasannya sederhana, gak tega kalau kamar mandi di rumahku penuh dengan aroma pete apalagi yang jual pete di dekat rumah itu jualnya gak bisa beli sedikit harus dua papan. Siapa yang mau ngabisin pete segitu banyak.

Tempe Sambal Hijau dengan buncis buatanku tenyata lumayan enak juga gak kalah sama rumah makan Padang. Cuma masih penasaran mau buat Tempe Sambal Hijau dan pete tapi sepertinya masih harus menunggu dan mencari orang-orang yang selidah untuk mau ikut bantu ngabisin pete dua papan, ada yang mau?

11 responses

  1. … baik tidaknya mereka mengolah daging menjadi rendang.

    Waaahhh … ini tekhnik menilai rumah makan minang yang simple … tetapi Saya tidak pernah memikirkannya sebelumnya …

    dan ini betul juga ya …
    Kalau ngolah daging menjadi rendang belum bisa … mungkin yang lain juga akan kurang sempurna

    salam saya Ann

  2. I love buncis and tempe very much …. menu siangku pun hari ini adalah tumis buncis tomat hijau cabe hijau + tempe goreng … tosss dulu dengan restoann🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s