Badung


Pemandangan seperti ini sudah tidak asing lagi di seputar Badung selama setahun ini mungkin juga untuk setahun kedepan. Sebagian orang mungkin tidak terlalu terlalu perduli tapi buatku benda ini sebagai tanda untuk menurunkan kecepatan kendaraan.

Semakin dekat semakin perlahan dan ketika tepat didepannya maka yang dilakukan adalah mencoba mencari dan membaca papan-papan nama yang ada disitu, mencari tahu kira-kira bakal jadi hotel apa nantinya.

Di kota lain mungkin bangunan-bangunan baru bisa saja menjadi perkantoran atau mall tapi disini hampir bisa dipastikan semua bangunan-bangunan itu nantinya bakal menjadi hotel.

Aku tidak tahu pasti berapa banyak hotel baru yang akan muncul dalam setahun kedepan ini, sepertinya ada puluhan hotel baru. Mulai dari brand hotel  baru sampai brand hotel-hotel internasional.

Kalau sekitar lima tahunan yang lalu, trendnya membangun villa setahun belakangan trendnya berubah ke budged hotel – kamar minimalis dengan harga terjangkau.

Banyaknya hotel-hotel baru yang akan buka setahun kedepan jelas jadi kabar gembira buat orang-orang yang bekerja di perhotelan seperti aku. Semakin banyak hotel baru berarti semakin banyak peluang untuk mendapatkan pekerjaan, kesempatan untuk posisi yang lebih baik, gaji yang lebih besar, mencoba pengalaman dengan manajemen yang berbeda atau  alasan-alasan yang lain.

Karena itulah aku selalu memperlambat laju kendaraan dan mencari tahu hotel apa lagi yang akan segera buka.

Selain kabar baik ada kabar buruknya juga. Kabar buruknya adalah semakin banyak hotel baru berarti semakin banyak pesaing.

Persaingan bisnis, persaingan mencari kerja, persaingan untuk mendapatkan pegawai dan yang paling tidak aku suka adalah semakin banyak jumlah manusia yang lalu lalang di jalanan, macet.

Pembangunan jalan layang Serangan – Nusa Dua dan proyek Under Pass Dewa Ruci memang sedang berjalan dan rencananya selesai tahun 2013, tapi bagaimana dengan kemacetan di lokasi lain, Jl. Raya Kerobokan atau Jl. Merthanadi Kerobokan misalnya atau jalan-jalan lain yang lebarnya tidak lebih untuk dua kendaraan roda empat idealnya untuk area perumahan kini berubah menjadi hotel, restoran dan toko.

Pembangunan yang berpusat di satu area, lahan parkir yang tidak memadai, tidak ada transportasi umum yang nyaman, permasalahan yang sama disetiap kota di Indonesia.

Aku berharap masalah kemacetan di Bali tidak semakin parah.

Gak rela kalau jumlah hotel semakin banyak berdiri tapi diisi dengan pegawai yang tidak lagi berjiwa.

Gak suka kalau melihat wajah dengan senyum dipaksa karena senyum tulus mereka luntur di jalan raya.

 

6 responses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s